Pages

Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label Poem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Poem. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Juli 2014

Semar Mesem

Denting maret sebelas menyapaku
Aku tahu, aku belajar mematik karenanya
ludah kalian mulai memercik hina
pada cangkul yang menjelma bintang biru
pada semar yang berkhayal menjadi ratu

Tapi lihatlah…
Aku bergerak pada masa ini
Aku merayap pada orasi basi
Mencongkel peci baru sisa lumbung kosong

Tapi lihatlah….
Kalian menyedihkan layaknya curut berit
Mengerat pada sisa-sisa kuasa sang Proklamator
Menjilat pada aspal yang masih tanah
Lihatlah….

Dan aku titahkan satriya piningit pada senyumku
Dan selarasku berbicara membungkam senyummu
Sedang aku tersenyum melihat merah putih berkibar di tiang bambu
Sedang kalian berpesta swasembada
Menebar biji pada jalan-jalan berdarah
Bukankah darah kalian sedikit pengorbanan saja?

Kini, keranda suteraku telah dibentangkan
Kudengar nyanyian kalian akan reformasi
Berkipas-kipas pada demokrasi mati
Ane cukup mesem mendengar cacian lewat balik kuburan

                                                

Pada sebuah Rumah

Ini cerita tentang sebuah rumah….
Terbuat dari setitik tinta yang meluas
Beratap kertas yang mulai usang

Dulu katanya…
Segores tinta bisa menhidupkan orang mati
Sebait hurufnya bisa membunuh sang penghuni gedung dewa
Dan lewat jarinya muncul keadilan duniawi

Kini, kulihat usang pada masanya
Mulu-mulut berbusa menggilas ludah
Otak-otak usang termakan diam
Hanya diam pada sekerumpun kisah yang merindu
Hanya bisu yang mengenal tangan
Dan masih saja..
Mesin keyik itu berdebu di pojok
Merindu masa dan tutsnya


19052013

Selembar Surat Cinta

Kutulis surat cinta ini
Kala hujan gerimis
Bersama derai-derainya
Melayarkan perahu kertas ini
Menunggumu, dan memaknamu kepada dermaga dan labuhannya
            Maka kala senja itu gadis kecil duduk termangu
            Mengayunkan kakinya satu dua
            Gadis kecil memaknamu adalah menunggu Ayahnya di perbatasan gaza
            Ia menyebar doanya pada langit lepas untuk menyampaikan serat rindunya
            Dengan sederhana meminta Ayah pulang untuk tarawih bersama
Kala pagi itu, Hujan masih gerimis
sang kupu bermandikan sayap indahnya
Burung-burung terbang lepas merobohkan tiraninya
Ia tampak bersenda gurau dan malu-malu memaknamu
Menyapu udara dengan sajak-sajak lepasnya
Sajak-sajak syukur dan tasbih di setiap malammu
            Fajar itu kutatap sang menara di ufuk kudus
            Ribuan santri memaknamu adalah mencari maknaNya
            Memaknamu dalam derasnya ayat-ayat Allah
            Menunggu 1001 bulan dalam ibadah di setiap malammu
Aku berjalan lagi…
Predikat yatim piatu disandang sejak mereka tau dunia
Namun mereka tak ingin ketinggalan ikut memaknamu
Baginya bulanmu adalah berkah
Setahun sekali dapat baju baru, makan enak, uang jajan
Katanya karena kehadiranmu uluran sang dermawan datang bak menganak sungai
Sayang-sayang kertasku masih terlipat menuliskan surat ini
Langkah gontai mengelana di kolong langitNya
Menyusur jejak menyaksikan butir-butir cinta yang mengukir tiap ruh
Aku belum bisa memakna dan menulis surat cinta untukmu
Terdengar sayup-sayup seratan cinta sang pemilik Arsy
Aku duduk diam terpaku di bawah menaranya
Aha…kini aku tahu
Bagiku kau sama saja, masih Ramadhanku yang dulu
Masih bulan yang kutunggu dan ditunggu yang lain
Masih kumakna dengan merangkai jawaban kebaikan dari setiap perantanyaanku
Bagiku kau adalah kau, Ramadhan yang penuh berkah
Yang dijanjikan kemuliaan, ampunan dan segalanya oleh sang pemilik Arsy
Maka aku akan memaknanmu dalam kesepenuhan ibadah
Dan menjemputmu dalam pintu kesempurnaan yang fitri

Kesempurnaan hakiki sebagi parcel dari Ilahi

Aku Pulang, Ramadhanku


Bagaimana kabarmu sekarang?
Apakah masih sama dengan yang dulu?
Kala kau begitu mesra mendekapku dalam bulan muliamu
Begitu dekat menyeru tiap ruh menebar kebaikan di bumi Allah
            Bagaimana kabarmu sekarang?
            Akankah kau masih ditunggu sejuta umat
            Menunggu ridloNya, maghfirohNya, dan satu itu aku tak bisa lupa
            Bukankah kau menyiapkan 1001 keutamaan yang dijanjikan olehNya
            1001 Malammu yang penuh misteri bukan
Jawablah, Bagaimana kau sekarang?
Taukah setahun aku merindumu
Menantimu dalam derap-derap kecemasan
Akankah kita bertemu lagi??
            Ah…Kapan aku pulang?
            Aku hanya ingin segera pulang menjemputmu dalam ujung sajadahku
            Segera, tak peduli seperti apa kau kini
            Aku hanya ingin pulang , Ramadhanku
Aku hanya ingin pulang Ramadhan kali ini
Dan bercrengkrama mesra padamu
Sambil satu-satu memakna ayatNya
Memanggil seribu malaikat untuk ikut bergabung
            Ah,dengarkan malaikat itu
            Ia berbisik halus menanti bidadari-bidari surga bersamamu
            Bidadari yang elok parasnya
            Dan Sang Bulan menggantung jingga jambu, cemburu!
Wahai Ramadhanku,
Sampaikanlah padaNya untuk  membuatku bertemu denganmu lagi tahun ini
Akan kupinta dalam sujud di malamMu
Dan 3 sujud yang ganjil…Bukankah Dia suka bilangan Ganjil?
Akan kusapa pula dalam sepertiga malam, untuk meminta padaNya
            Ah…perhatikanlah…
            Sebentar lagi kau datang, aku harus bersiap!
            Dengan merantai nafsu dara fajarmu hingga tenggelam matahari
            Dengan kubuang marah dan kubungkus dengan keikhlasan
            Kan kutananm pula benih-benih keutamaan itu
            Kau suka bukan?
Wahai Ramadhanku…
Lihatlah wajah-wajah yang merona ikhlas
Senyum yang terkembang
Dan tenaga yang berlebih
Semua untukmu, Ramadhanku

Dan aku tak sabar ingin pulang…